Puasa Musim Panas di Inggris


Kata Ramadhan itu berasal dari kata ‘Ramadh’, yang artinya adalah terik matahari yang sangat panas. Dan pada zaman dulu, ketika akan memberi nama bulan itu disesuaikan dengan keadaannya.

Puasa tahun ini merupakan yang terpanjang bagi umat muslim di Inggris dan negara-negara Eropa, sekitar 19 jam. Bulan Ramadhan yang jatuh pada musim panas, menyebabkan umat Muslim di Inggris baru dapat berbuka puasa dan sholat maghrib pada 21.25, sementara imsak pukul 02.45 dini hari. Dan sholat Tarawih yang dilakukan setelah sholat Isya, sekitar pukul 23.00. Di sejumlah negara-negara Eropa, ini adaah pertama kalinya bulan Ramadhan bertepatan dengan bulan Juni, sejak 1982.

Seusai summer Ramadhan yang terberat, mereka berupaya merefleksikan diri. Walaupun terasa berat di awalnya, dengan pertolongan Allah SWT mereka dapat memenuhi ibadah puasa. Ternyata niat yang teguh bertekad untuk bisa berpuasa sepanjang waktu setempat yang sudah ditetapkan Allah adalah modal awal yang sangat krusial; dan niat itu harus terus ditegaskan setiap hari sebagai pengingat.

Summer Ramadhan juga banyak mengajarkan mereka untuk lebih disiplin dalam memanfaatkan dan mengorganisasi waktu; belajar untuk bisa lebih menahan diri untuk tetap stabil, self-control, berupaya lebih bersabar menahan keletihan dari lapar haus dan sakit sehingga tidak mempengaruhi emosi dalam beribadah dan bermuamalah.

Secara scientific manusia sesungguhnya mampu bertahan hidup sehat dengan makan sekali sehari dengan menu seimbang. Mereka hanya cukup menahan lapar haus selama 21 jam dan paling tidak tahu bahwa pada akhir puasa akan ada hidangan yang memuaskan dahaga dan lapar, dan hanya berlangsung selama sebulan. Lain halnya untuk sebagian orang, mereka tidak punya pilihan tapi harus terus berpuasa bahkan di luar Ramadhan dan tidak ada jaminan akan ada hidangan tersedia saat berbuka.

Yang paling berkesan buat kaum muslim di Inggris adalah saat di mana mereka berada pada posisi terendah sebagai manusia, dengan sakit kepala yang luar biasa dan lapar haus yang mencekam, mereka hanya bisa meratap kepada Allah – memohon belas kasihan dan pertolongan-Nya. Betapa tidak berdayanya mereka hanya dengan sedikit kurang makan dan minum, betapa terasa menderitanya saya di tengah hawa yang panas, menyadarkan bahwa sungguh kecil dan lemah diri ini. Semua itu seperti mengembalikan kedudukan manusia sebagai hamba-Nya yang cuma bisa bergantung kepada yang Maha Penguasa, Allah SWT. Maka sungguh sangat tidak pantas jika di kemudian hari mereka bahkan kita jadi malas bersyukur dan merasa sombong dengan segala nikmat yang Allah telah limpahkan pada kita semua.

Di tanah empat musim ini di mana Ramadhan setiap tahunnya selalu dinamis dan tidak sama, seperti menemukan kembali arti lapar dan dahaga sesungguhnya, mengenali lagi arti pasrah dan tawakal dengan berharap dan menggantungkan diri sepenuhnya hanya kepada Allah ta’ala. Semoga buah summer Ramadhan ini bisa terus dijaga dan dinikmati oleh kaum muslim diseluruh dunia, hingga perjumpaan di Ramadhan berikutnya. Insya Allah.


Sumber: dakwatuna
Share on Google Plus

About awwabiin

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.